Senin, 11 Februari 2013

Hutan Indonesia Sebagai Paru-Paru Dunia














Hutan Indonesia Sebagai Paru-Paru Dunia

Indonesia sebagai Negara Kepulauan terbesar di dunia dengan segala kekayaan alam dan sumber daya manusia yang dimiliki merupakan Negara yang berpotensi besar dan sangat penting di kawasan Asia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Apalagi bila jika dilihat melalui kenyataan secara factual kekayaan hutan Indonesia merupakan Hutan Tropis Terbesar kedua di dunia setelah Brazil, disamping itu hutan Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia, yang berfungsi sebagai filter dalam mengurangi pemanasan global secara signifikan

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting.

Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar.

Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas.

Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padi-padian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang jelas.

Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Jika kita berada di hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat dan lembap, yang berbeda daripada daerah perladangan sekitarnya. Pemandangannya pun berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan hewan (hingga yang sekecil-kecilnya), serta beraneka unsur tak hidup lain termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari hutan.

Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.

Hutan Sebagai Penghasil Oksigen (O2)
Penyerapan CO2 oleh tumbuhan memberi andil dalam mengurangi pencemar CO2 di udara.Karbon dari CO2 ini disimpan di dalam jaringan tumbuhan (kayu) yang kemudian kayu ini berguna bagi manusia. Suatu laporan menyebutkan bahwa sebatang pohon selama hidupnya diprediksi mampu menyerap 7.500 gram karbon.

Karena alasan inilah tumbuhan dikenal sebagai pelaku carbon sinks.Sumber lain menyebutkan bahwa secara taksiran kasar,dalam satu hari sebatang pohon menyerap CO2 antara 20 dan 36 gram per hari. Bila di pekarangan rumah anda terdapat 10 buah pohon, maka dalam sebulanpekarangan anda memberikan kontribusi menyerap CO2 sebanyak 5,6 – 10,08 kg atau menyimpan 750 kg karbon selama tanaman itu tumbuh di sana. Kalau di sekitar rumah anda ada 99 KK yang memiliki jumlah pohon sama dengan di rumah anda, maka jumlah CO2 yang diserap menjadi 0,5 – 1,008 ton atau karbon yang disimpan sebanyak 75 ton.

Uraian diatas mungkin baru gambaran dari lingkungan satu RW (rukun warga). Bila dikalkulasikan dalam luasan satu desa / kelurahan, sekecamatan atau sekabupaten / kota maka betapa besarnya CO2 yang diserap atau karbon yang disimpan di dalam tumbuhan / tanaman. Suatu estimasi dilaporkan bahwa 1 acre (0,405 ha) luas pertanaman di Amerika dalam setahun menyerap CO2 yang setara dengan CO2 yang diemisikan oleh sebuah mobil yang menempuh jarak 26.000 mile (41.842,944 km); dan menurut sumber tersebut 0,405 ha (kurang dari setengah hektar) luas lahan berpepohonan di Brooklyn cukupuntuk mengkonpensasi penggunaan bahan bakar oleh sebuah mobil yang menempuh jarak 7.200 – 8700 mile (11.587,27 – 14.001,29 km)

Nah sekarang, Bagaimana tumbuhan / pohon bila dikaitkan dengan produksi oksigen ? Hasil estimasi ilmiah menunjukkan bahwa dalam sejam satu lembar daun memperoduksi oksigen sebanyak 5 ml. Dengan mengambil contoh pekarangan rumah anda dan sekitarnya yang ditanami pepohonan tadi dan bila rata-rata jumlah daun per pohon 200 lembar, maka pohon-pohon di tempat tinggal anda dan sekitarnya akan menyumbang oksegen sebanyak 10 x 100 x 200 x 5 ml = 1.000 liter per jam. Angka ini setara dengan jumlah kebutuhan oksigen untuk pernapasan sebanyak 18 orang (kebutuhan oksigen untuk satu orang bernapas adalah 53 liter per jam).

Dengan menyimak uraian diatas, maka tak diragukan lagi bahwa pemanasan global harus dihentikan; dan setiap individu punya andil untuk berpartisipasi. Caranya adalah dengan menanam pohon : di kawasan hutan, di lahan-lahan kritis, di pekarangan rumah, di kantor-kantor, di kampus-kampus, di sekolah-sekolah, di pabrik-pabrik di kota dan di desa. Selain itu, pohon-pohon yang sudah ada harus dijaga kelestariannya demi generasi sekarang dan akan datang.
Hutan Indonesia Sebagai Paru-Paru Dunia

Indonesia sebagai Negara Kepulauan terbesar di dunia dengan segala kekayaan alam dan sumber daya manusia yang dimiliki merupakan Negara yang berpotensi besar dan sangat penting di kawasan Asia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Apalagi bila jika dilihat melalui kenyataan secara factual kekayaan hutan Indonesia merupakan Hutan Tropis Terbesar kedua di dunia setelah Brazil, disamping itu hutan Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia, yang berfungsi sebagai filter dalam mengurangi pemanasan global secara signifikan

Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting.

Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar.

Hutan merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas.

Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padi-padian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang jelas.

Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada daerah di luarnya. Jika kita berada di hutan hujan tropis, rasanya seperti masuk ke dalam ruang sauna yang hangat dan lembap, yang berbeda daripada daerah perladangan sekitarnya. Pemandangannya pun berlainan. Ini berarti segala tumbuhan lain dan hewan (hingga yang sekecil-kecilnya), serta beraneka unsur tak hidup lain termasuk bagian-bagian penyusun yang tidak terpisahkan dari hutan.

Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman.

Hutan Sebagai Penghasil Oksigen (O2)
Penyerapan CO2 oleh tumbuhan memberi andil dalam mengurangi pencemar CO2 di udara.Karbon dari CO2 ini disimpan di dalam jaringan tumbuhan (kayu) yang kemudian kayu ini berguna bagi manusia. Suatu laporan menyebutkan bahwa sebatang pohon selama hidupnya diprediksi mampu menyerap 7.500 gram karbon.

Karena alasan inilah tumbuhan dikenal sebagai pelaku carbon sinks.Sumber lain menyebutkan bahwa secara taksiran kasar,dalam satu hari sebatang pohon menyerap CO2 antara 20 dan 36 gram per hari. Bila di pekarangan rumah anda terdapat 10 buah pohon, maka dalam sebulanpekarangan anda memberikan kontribusi menyerap CO2 sebanyak 5,6 – 10,08 kg atau menyimpan 750 kg karbon selama tanaman itu tumbuh di sana. Kalau di sekitar rumah anda ada 99 KK yang memiliki jumlah pohon sama dengan di rumah anda, maka jumlah CO2 yang diserap menjadi 0,5 – 1,008 ton atau karbon yang disimpan sebanyak 75 ton.

Uraian diatas mungkin baru gambaran dari lingkungan satu RW (rukun warga). Bila dikalkulasikan dalam luasan satu desa / kelurahan, sekecamatan atau sekabupaten / kota maka betapa besarnya CO2 yang diserap atau karbon yang disimpan di dalam tumbuhan / tanaman. Suatu estimasi dilaporkan bahwa 1 acre (0,405 ha) luas pertanaman di Amerika dalam setahun menyerap CO2 yang setara dengan CO2 yang diemisikan oleh sebuah mobil yang menempuh jarak 26.000 mile (41.842,944 km); dan menurut sumber tersebut 0,405 ha (kurang dari setengah hektar) luas lahan berpepohonan di Brooklyn cukupuntuk mengkonpensasi penggunaan bahan bakar oleh sebuah mobil yang menempuh jarak 7.200 – 8700 mile (11.587,27 – 14.001,29 km)

Nah sekarang, Bagaimana tumbuhan / pohon bila dikaitkan dengan produksi oksigen ? Hasil estimasi ilmiah menunjukkan bahwa dalam sejam satu lembar daun memperoduksi oksigen sebanyak 5 ml. Dengan mengambil contoh pekarangan rumah anda dan sekitarnya yang ditanami pepohonan tadi dan bila rata-rata jumlah daun per pohon 200 lembar, maka pohon-pohon di tempat tinggal anda dan sekitarnya akan menyumbang oksegen sebanyak 10 x 100 x 200 x 5 ml = 1.000 liter per jam. Angka ini setara dengan jumlah kebutuhan oksigen untuk pernapasan sebanyak 18 orang (kebutuhan oksigen untuk satu orang bernapas adalah 53 liter per jam).

Dengan menyimak uraian diatas, maka tak diragukan lagi bahwa pemanasan global harus dihentikan; dan setiap individu punya andil untuk berpartisipasi. Caranya adalah dengan menanam pohon : di kawasan hutan, di lahan-lahan kritis, di pekarangan rumah, di kantor-kantor, di kampus-kampus, di sekolah-sekolah, di pabrik-pabrik di kota dan di desa. Selain itu, pohon-pohon yang sudah ada harus dijaga kelestariannya demi generasi sekarang dan akan datang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar