Rabu, 13 Februari 2013

Ubah Gaya Hidup, Selamatkan Hutan Sumatera


Berapa lembar kertas yang Anda gunakan setiap hari? Berapa gelas kopi Anda minum sehari-hari? Berapa banyak gorengan Anda nikmati? Berapa banyak bahan dari minyak sawit yang Anda gunakan? Sangat banyak barangkali. Apalagi bila Anda tinggal di kota besar yang gaya hidupnya tak lepas dari barang-barang itu.
Namun, tahukah Anda bahwa dengan mengurangi konsumsi kopi, minyak sawit dan bahan turunannya, serta penggunaan kertas, Anda bisa ikut menyelamatkan hutan di Sumatera? Pasalnya, hutan yang dahulu menjadi habitat berbagai jenis hewan dan penyimpanan air tanah itu kini telah banyak diubah fungsinya, baik untuk perkebunan kopi, kelapa sawit, atau pohon bahan baku kertas untuk memenuhi kebutuhan orang kota. Tak heran jika hutan di beberapa daerah pedalaman rusak.
"Situasi hutan Sumatera kini membutuhkan perhatian dari banyak orang. Produksi kertas, kelapa sawit, dan kopi yang diolah untuk kepentingan masyarakat kota telah merusak hutan di Sumatera," kata Communications Manager World Wildlife Fund Indonesia (WWF) Desmarita Murni dalam kampanye "Ayo Jelajahi Hutan Sumatera", Jumat (22/8). Kampanye yang diusung WWF Indonesia itu digelar dengan tujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat kota bahwa pola hidup mereka berpengaruh pada ekosistem hutan di Sumatera.
Menurut Desmarita, kondisi hutan di Sumatera amat memprihatinkan. "Dalam kurun waktu 1995 sampai 2007 jumlah organisme penutup permukaan hutan Sumatera yang hilang mencapai 48 persen. Kini jumlah sumber daya alam yang dapat digunakan hanya tersisa 30 persen saja. Itu pun telah digunakan untuk produksi kertas, kopi, dan kelapa sawit," ucap Desmarita.
Data dari WWF Indonesia menyebutkan, jumlah satwa di hutan Sumatera juga ikut menurun drastis. Populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang ada di alam tinggal 400 ekor, sementara populasi badak sumatera kurang dari 300 ekor. Penurunan populasi juga terjadi pada orangutan dan gajah sumatera. Jumlah orangutan yang tersisa adalah 6.500 ekor dan populasi gajah 2.400-2.800 ekor.
Desmarita mengatakan, sebenarnya banyak yang bisa dilakukan masyarakat kota untuk menyelamatkan hutan Sumatera. "Masyarakat harus bisa menghemat dan mengurangi konsumsi produk yang menghilangkan habitat hidup, misalnya mengurangi penggunaan kertas. Alasannya, satu rim kertas telah mengorbankan dua meter persegi hutan alam serta merusak habitat harimau, gajah, dan orangutan di Sumatera," paparnya.
Selain itu, lanjut Desmarita, cara lain yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan tidak memelihara satwa-satwa yang hampir punah. "Satwa seperti harimau dan orangutan tidak boleh dibeli masyarakat untuk dijadikan hewan peliharaan. Alam adalah rumah mereka," ujarnya.
Penghijauan kembali hutan Sumatera juga bisa menjadi alternatif tersendiri. Hutan yang gundul telah memengaruhi populasi secara umum. Tidak hanya satwa, manusia pun ikut mengalami dampak negatif penggundulan hutan. "Banjir, longsor, dan kebakaran hutan adalah contoh dampak negatif yang dirasakan manusia," kata Desmarita.
Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi menyelamatkan hutan Sumatera perlu ditingkatkan. "Masyarakat masih diliputi semangat perayaan ulang tahun kemerdekaan RI. Dengan semangat yang sama, ada baiknya masyarakat sadar bahwa kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tapi juga soal kepedulian terhadap lingkungan," kata Desmarita.(Sumber: www.kompas.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar