Jumat, 29 Maret 2013

Konservasi Kawasan Ekosistem Leuser Hasilkan Bibit Tanaman Hutan


Program Pengembangan Kolaborasi Konservasi dan Perlindungan Kawasan Leuser (KEL) menghasilkan sebanyak 90.720 bibit tanaman untuk merestorasi lahan hutan di kawasan Blok Kabupaten Karo dan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

"Ini merupakan komponen kegiatan ketiga dalam pelatihan dan produksi bibit tanaman untuk persiapan restorasi koridor konektivitas dan lahan terdegradasi di KEL Blok Karo-Langkat seluas 150 Ha," kata Manajer Program Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Pusat Informasi Orangutan (YOSL-OIC) Masrizal Saraan di Medan, Senin 18 Februari 2013.

Masrizal menyebutkan bibit-bibit tersebut terdiri dari 41 spesies dimana hasil produksi triwulan pertama (Oktober-Desember 2012) sebanyak 41.205 bibit dan produksinya mencapai 49.515 bibit.

Dia menyebutkan, jenis bibit tanaman tersebut di antaranya, pulai (Alstonia scholaris), rambutan (Nephelium lappaceum), jeluak (Mallotus barbatus), turi-turi (Sesbania grandifora), cempedak (arthocarpus champeden), tiga urat (Cinnamommum spp.), sentang (Azadirachta exelsa), halaban (Vitex pubescens), sungkai (Peronema canesdens), salam (Syzygium polyanthum) dan lainnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan kegiatan tersebut terdiri dari empat tahapan, meliputi memproduksi bibit, pembangunan pusat pembibitan dan pondok kerja, pembuatan pupuk kompos serta penyediaan/prosuksi bibit tanaman.

"Kegiatan pelatihan produksi bibit baru baru dapat terlaksana untuk dua kelompok, padahal pada triwulan sebelumnya telah terbentuk empat kelompok kerja restorasi," katanya.

Dia mengatakan dua kelompok lainnya telah mendapat pelatihan produksi bibit yang dilaksanakan pada November 2012 di pondok kerja restorasi di Desa Halaban, Kabupaten Langkat.

"Nantinya pondok tersebut akan difungsikan sebagai pusat pelatihan pembibitan (nursery training center)," katanya.

Masruzal menjelaskan bibit tanaman tersebut diproduksi dengan mencari biji dan anakan yang merupakan cabutan dari alam.

Dia menyebutkan, kegiatan tersebut meliputi persiapan alat dan bahan, persiapan media tanam, pengisian tanah ke 'polybag', penyemaian benih dan cabutan alam, penyapihan bibit dan perawatan bibit, seperti penyulaman sisip bibit, penyiraman dan penyiangan gulma.

"Penyemaian benih dan penyapihan bibit dilaksanakan dengan melibatkan ibu-ibu sekitar kampung," katanya.

Produksi bibit tersebut merupakan salah satu kegiatan restorasi di Kawasan Tanaman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Resor Sei Betung dan hasil kerjasama OIC dalam kapasitasnya sebagai Oversight Comittee Technical Meeting (OCTM) USAID untuk Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera.

Di resor tersebut, sekitar 200 hektar lahan sudah direstorasi sejak 2008, dimana saat ini tanaman sudah berumur empat tahun.


Sumber: Antara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar