Senin, 18 Maret 2013

Penghijauan hutan lereng Merapi butuh perawatan


Baru-baru ini dilakukan penghijauan terhadap lahan kritis di lereng Merapi akibat erupsi pada tahun 2010. Bupati Sleman mengajak semua pihak yang melakukan penghijauan agar tidak hanya member bibit dan menanam, tetapi juga membantu perawatannya.
Hutan rakyat di kawasan Gunung Merapi yang sudah ditanami seluas 300 hektare dari 840 hektare yang mengalami kerusakan akibat bencana erupsi pada akhir 2010.
Ilustrasi. Sejumlah anak mengenakan hiasan kepala menggunakan dedaunan saat mengikuti acara Jagad Bocah Merapi 2013 di kawasan lereng Gunung Merapi Desa Kali Bening, Dukun, Magelang, Jateng, Minggu (10/2). Kegiatan seni budaya yang diikuti oleh ratusan anak tersebut bertujuan untuk menjaga kerukunan serta memperkuat penanaman semangat kepedulian terhadap lingkungan alam dan pertanian di kawasan Gunung Merapi. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin)
Ilustrasi. Sejumlah anak mengenakan hiasan kepala menggunakan dedaunan saat mengikuti acara Jagad Bocah Merapi 2013 di kawasan lereng Gunung Merapi Desa Kali Bening, Dukun, Magelang, Jateng, Minggu (10/2). Kegiatan seni budaya yang diikuti oleh ratusan anak tersebut bertujuan untuk menjaga kerukunan serta memperkuat penanaman semangat kepedulian terhadap lingkungan alam dan pertanian di kawasan Gunung Merapi. (FOTO ANTARA/Anis Efizudin)
"Bencana erupsi tersebut juga menyebabkan kerusakan 1.000 hektare lebih kawasan Taman Nasional Gunung Merapi di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)," kata Bupati Sleman Sri Purnomo, Kamis.
Bupati Sleman mengatakan hal tersebut pada acara penanaman 1.000 pohon dalam rangka kegiatan "Oil and Gas Intellectual Parade (OGIP) 2013 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta di Bumi Perkemahan Desa Wisata Garongan, Kecamatan Turi, Sleman.
Menurut dia, di wilayah Kabupaten Sleman saat ini juga terdapat 1.000 hektar lebih lahan kritis dan sangat kritis. Sedangkan 57.000 hektar lebih adalah lahan yang berpotensi kritis.
"Gerakan menanam pohon juga senantiasa kami lakukan dan galakkan, khususnya di lokasi lahan kritis. Ini sebagai upaya untuk menghijaukan kembali lereng Merapi, dan kami telah berupaya untuk menanam kembali," katanya.
Ia mengatakan upaya tersebut selama ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik masyarakat setempat maupun para donator.
"Kepada masyarakat yang membantu, kami selalu meminta agar tidak hanya memberikan bantuan bibit dan penanamannya, tetapi juga bertanggung jawab dalam perawatannya, sehingga penghijauan dan pelestarian hutan benar-benar berhasil tumbuh dan berkembang," katanya.
Sri Purnomo mengatakan Pemkab Sleman senantiasa menggalakkan gerakan penghijauan di lereng Merapi maupun di pekarangan rumah warga untuk mengurangi dampak pemanasan global, meningkatkan penyerapan gas polutan yang berbahaya bagi manusia, mencegah banjir, dan tanah longsor.
"Terlebih lagi di Kabupaten Sleman juga masih terdapat lahan kritis seluas 1.528, 25 hektare, diantaranya di Prambanan seluas 141,2 hektare, dan di Cangkringan seluas 973,10 hektare," katanya.
Ia mengatakan Pemkab Sleman juga senantiasa memberikan motivasi dan fasilitasi kepada masyarakat melalui sosialisasi pengelolaan lingkungan maupun pemberian bantuan stimulan.
"Bantuan stimulan yang telah diberikan antara lain memberikan bantuan berupa alat bor biopori, bantuan SPAH, bantuan bibit tanaman untuk penghijauan, IPAL Komunal, biogas, sarana prasarana pengelolaan sampah, serta bantuan energi surya," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar